Friday, August 31, 2012

Bahasa Inggris dan Kontroversi Metode Belajarnya


Praksis pembelajaran selama ini seringkali hanya dianggap sebagai suatu proses satu arah saja, yaitu cara mengajar yang baik. Padahal dalam praktiknya, proses pembelajaran adalah interaksi antara dua pihak (guru-murid) yang masing-masing menjalankan perannya sebagai pembelajar (guru yang mengajar) dan pebelajar (murid yang belajar). Sayangnya, elemen murid sebagai pebelajar hampir tidak pernah ditampilkan sehingga kurang mendapat perhatian dalam proses pembelajaran. Praksis pembelajaran cenderung menganggap murid sebagai objek pembelajaran yang perannya dibatasi hanya sebagai penerima. Padahal, justru muridlah yang seharusnya mendapat perhatian utama. Pada kenyataannya, seorang guru akan dianggap berhasil apabila murid-muridnya dapat menyerap materi yang diajarkan. Sebaliknya, secanggih dan sekreatif apapun seorang guru dalam mengajar, apabila murid-muridnya tidak dapat mengerti tetap saja dianggap bahwa guru tersebut telah gagal.
            Orang-orang yang berkecimpung di bidang pembelajaran bahasa asing sering mengatakan bahwa pebelajar/murid-murid yang benar-benar ingin belajar akan tetap berhasil dalam kondisi pembelajaran apapun. Para guru pun juga cenderung mengiakan bahwa murid-murid tertentu yang “termotivasi” biasanya lebih baik daripada teman-temannya yang lain: mereka tetap berhasil dalam pembelajarannya meskipun situasi dan kondisi pembelajaran kurang mendukung, mereka tetap berhasil meskipun gurunya menggunakan metode pembelajaran yang dianggap para pakar kurang memuaskan.
Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk mencapai sesuatu. Pencapaian terhadap suatu sasaran dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu sasaran jangka panjang dan jangka pendek. Sasaran jangka panjang dapat saja berupa harapan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik atau untuk mencapai karir yang lebih cemerlang atau bahkan harapan untuk pergi ke luar negeri sebagai bagian dari tugas belajar atau penugasan dinas rutin. Sedangkan sasaran jangka pendek dapat berupa keinginan untuk lulus ujian atau tes tertentu yang mensyaratkan kompetensi bahasa Inggris. Bayangkan jika seseorang sama sekali tidak mempunyai sasaran apa-apa (sehingga tidak ada dorongan yang nyata sama sekali), dapatkah dia belajar sesuatu?
Motivasi belajar dapat dibagi dalam dua kategori, yakni motivasi ekstrinsik, yang berhubungan dengan faktor-faktor di luar kelas, dan motivasi intrinsik, yang berkaitan dengan apa yang terjadi di dalam kelas. Dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris, motivasi ekstrinsik dapat berbentuk ketertarikan terhadap budaya bangsa yang menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi, misalnya ketertarikan terhadap budaya Barat atau Amerika (Alangkah nikmatnya jika kita dapat menonton film-film Hollywood tanpa harus terpecah konsentrasi untuk membaca teks terjemahannya). (Khusus bagi anggota TNI: Dalam era globalisasi dewasa ini, di mana perjumpaan dengan orang-orang asing menjadi semakin sering, kemampuan personel TNI untuk berkomunikasi dengan mereka melalui bahasa internasional (baca: bahasa Inggris) menjadi semakin penting, baik dalam konteks intelijen pertahanan maupun dalam konteks negosiasi).
Keyakinan bahwa penguasaan bahasa Inggris dapat membantu seseorang memperoleh pekerjaan, jabatan, atau status yang lebih baik juga dapat dikategorikan dalam motivasi ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik lain yang juga dapat mempengaruhi keberhasilan seseorang untuk belajar bahasa asing (baca: bahasa Inggris) adalah pengalaman belajar bahasa Inggris. Jika dulu (misalnya waktu masih sekolah) pernah memperoleh hasil yang memuaskan saat belajar bahasa Inggris, maka sekarang pun mereka akan merasa mudah untuk mencapainya. Sebaliknya, jika dulu merasa gagal dalam belajar, mereka pun cenderung menganggap hal yang sama akan terjadi pada diri mereka sekarang.
Meskipun dapat diasumsikan bahwa pebelajar dewasa pada umumnya termotivasi secara ekstrinsik dalam derajat tertentu, keberhasilan belajar bahasa Inggris juga ditentukan oleh faktor-faktor intrinsik di dalam kelas, misalnya kondisi fisik kelas, metode pembelajaran, guru, dan derajat keberhasilan. Situasi kelas yang kurang penerangan dan terlalu banyak murid cenderung mengurangi motivasi belajar murid. Kondisi papan tulis juga dapat mengurangi motivasi belajar, khususnya apabila tulisan di papan tulis kurang jelas atau kabur sehingga sulit dibaca oleh murid-murid yang ada di belakang atau di samping. Meskipun kekurangan-kekurangan tersebut sebenarnya adalah wewenang penanggung jawab atau pemimpin sekolah, guru-guru juga dapat mengakalinya dengan membuat suasana kelas lebih menyenangkan, misalnya dengan menempel poster-poster, pekerjaan pebelajar, dan semacamnya di dinding kelas.
Metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru juga mempengaruhi motivasi belajar murid. Proses pembelajaran yang membosankan (banyak pebelajar yang mengeluhkan hal ini) cenderung menurunkan motivasi belajar. Faktor metode pembelajaran ini berkaitan sangat erat dengan individu yang menjalankannya, yaitu sang guru. Setiap pebelajar cenderung berharap bahwa guru mereka mampu membuat proses pembelajaran yang menyenangkan, penjelasannya mudah dimengerti, sabar, dan bersikap adil atau tidak pilih kasih.
Selain motivasi belajar, faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa Inggris adalah karakteristik pebelajar sendiri. Sebagai individu, setiap pebelajar mempunyai metode belajar sendiri-sendiri yang sayangnya seringkali diabaikan oleh para guru bahasa Inggris. Karakteristik pebelajar dapat digolongkan dalam dua kategori: mereka yang menyukai dan cepat menguasai hafalan dan mereka yang menyukai belajar tata bahasa.
Tak bisa dibantah bahwa sebagian besar pebelajar bahasa Inggris cenderung menganggap bahwa belajar bahasa berkaitan erat dengan hafalan, baik menghafal arti suatu kata atau ujaran maupun menirukan kalimat-kalimat yang sering digunakan dalam percakapan. Konsep ini bertolak dari filosofi behaviorisme atau teori perilaku manusia. Filosofi behaviorisme menyatakan bahwa belajar bahasa baru adalah masalah pembentukan suatu kebiasaan yang baru, yaitu berkomunikasi dengan bahasa target. Bagaimana caranya? Dengan berlatih. Latihan mendorong kebiasaan: mulai dari lingkup yang kecil seperti menghafal kata atau kelompok kata (frase) sampai lingkup yang lebih luas seperti frase-frase panjang atau bahkan kalimat.
Hafalan juga tidak hanya terfokus bagaimana cara mengucapkan suatu kata atau kalimat, tetapi juga meliputi pengenalan terhadap ujaran yang diucapkan oleh lawan bicara, baik penutur asli bahasa Inggris maupun bukan. Konsep pembiasaan ini mendorong pebelajar untuk merespon secara spontan dan otomatis suatu pembicaraan dengan sama persis dengan cara para penutur bahasa Inggris.
Banyak juga pebelajar yang menyukai cara belajar dengan menganalisis peraturan-peraturan yang mendasari penggunaan bahasa Inggris. Dengan cara ini, mereka merasa dapat lebih cepat menguasai bahasa Inggris karena memahami konsep dasar penggunaannya. Cara belajar ini berdasar pada filosofi belajar kognitifisme atau rasionalisme. Teori kognitif menyatakan bahwa pemahaman adalah faktor yang sangat penting saat belajar. Pemahaman terhadap peraturan tata bahasa Inggris dapat mendorong pebelajar untuk mengucapkan berbagai ujaran dalam bahasa Inggris bahkan tanpa harus pernah mendengar atau membacanya terlebih dahulu.
Dewasa ini, para pakar pembelajaran bahasa Inggris juga menganjurkan pebelajar agar sesering mungkin berinteraksi dengan para penutur bahasa Inggris. Melalui interaksi tersebut, pebelajar dapat lebih mengetahui kelemahan dan kekuatan keterampilan berbahasa Inggrisnya dengan cara mengamati secara langsung respon dari penutur bahasa Inggris tersebut. Interaksi langsung dengan penutur bahasa Inggris memungkinkan pebelajar mengetahui apakah dia dapat memahami ujaran mereka dan sebaliknya apakah ujaran bahasa Inggrisnya dapat dimengerti atau tidak oleh mereka. Pada prinsipnya, semakin sering pebelajar berinteraksi dengan komunitas penutur bahasa Inggris akan semakin banyak yang dipelajarinya.
Metode belajar bahasa Inggris yang efektif lainnya adalah dengan latihan. Pepatah mengatakan bahwa “practice makes perfect”, artinya bahwa latihan dapat menjadikan sesuatu lebih baik atau bahkan sempurna. Dalam proses belajar, pengetahuan yang didapat pebelajar disimpan oleh sistem memori di dalam otak. Semakin sering pengetahuan tersebut digunakan akan semakin mudah pula pengetahuan tersebut diambil dari sistem memori otak. Berlatih menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi tidak harus selalu dengan penutur bahasa Inggris, meskipun jika memungkinkan akan lebih baik. Artinya, jika tidak ada penutur bahasa Inggris yang bisa diajak/dibujuk untuk latihan berbahasa Inggris, pebelajar tetap bisa berlatih dengan sesama teman, sebagaimana pepatah “tidak ada rotan, akar pun jadi”.
Belajar bahasa Inggris juga dapat menggunakan media alternatif seperti lagu, film, koran, majalah, atau bahkan novel dan komik yang berbahasa Inggris. Salah satu keunggulan media alternatif tersebut di atas adalah bahwa pebelajar tidak merasa sedang belajar, tetapi merasa sedang menikmati hobi atau memenuhi kebutuhan rekreasi karena kegiatannya cenderung menyenangkan hati.
Kegiatan belajar lain yang sangat berguna namun sering terlupakan adalah korespondensi. Mengirim surat kepada teman atau siapa saja dengan penutur bahasa Inggris dapat meningkatkan keterampilan menulis dan membaca teks bahasa Inggris. Jika pebelajar merasa kesulitan untuk memperoleh majalah atau koran berbahasa Inggris yang biasanya menyediakan rubrik korespondensi, saat ini internet dapat menjadi alternatif yang paling memungkinkan karena kemudahan aksesnya baik melalui program facebook maupun twitter.
Kesimpulannya, tidak ada alasan untuk tidak belajar: dimana ada kemauan, pasti ada jalan. Selamat belajar…!

No comments:

Post a Comment